Malam itu, langit Makkah tampak gelap dan sunyi. Hanya suara angin yang berhembus di antara rumah-rumah penduduk Quraisy. Seorang pemuda gagah dengan sorot mata tajam duduk di halaman rumahnya, memandangi langit dengan pikiran yang berkecamuk. Dia adalah Khalid bin Walid, seorang prajurit Quraisy yang namanya sudah terkenal karena keberaniannya di medan perang.
Di dalam hatinya, ia merasa bangga dengan kejayaan Quraisy, namun ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Islam, agama yang dibawa oleh Muhammad, semakin hari semakin berkembang. Para sahabat yang dulu ia anggap lemah, kini mulai menunjukkan kekuatan yang tidak bisa diremehkan.
Perang Uhud: Kemenangan yang Berubah Menjadi Penyesalan
Beberapa tahun sebelumnya, Khalid memimpin pasukan berkuda Quraisy dalam Perang Uhud. Saat itu, ia melihat celah besar ketika pasukan Muslim mulai lengah karena mereka terlalu cepat merayakan kemenangan. Dengan strategi yang brilian, Khalid memimpin pasukannya mengitari bukit dan menyerang kaum Muslim dari belakang.
Serangan mendadak itu membuat pasukan Muslim kacau balau. Banyak sahabat Rasulullah gugur, termasuk Hamzah bin Abdul Muttalib, paman Rasulullah yang dikenal sebagai Singa Allah.
Ketika pertempuran usai, Khalid berdiri di puncak bukit, melihat ke arah Madinah dari kejauhan. Ia seharusnya merasa puas karena telah memenangkan pertempuran, tetapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Bagaimana bisa Muhammad dan pengikutnya yang awalnya lemah tetap bertahan? Apa yang membuat mereka begitu yakin dengan ajaran mereka?
Perjalanan Menuju Islam
Waktu berlalu. Khalid mendengar tentang Perjanjian Hudaibiyah, sebuah kesepakatan damai antara kaum Muslim dan Quraisy. Ia mulai melihat perubahan yang terjadi di sekitarnya. Islam semakin diterima oleh banyak orang, bahkan beberapa sahabatnya telah memeluk agama itu.
Saudaranya, Walid bin Walid, yang telah lebih dulu masuk Islam, sering mengiriminya surat. Dalam salah satu suratnya, ia menulis:
“Wahai Khalid, engkau memiliki kecerdasan dan keberanian yang luar biasa. Engkau pasti tahu bahwa Muhammad bukanlah pembohong. Sampai kapan engkau akan menutup hatimu terhadap kebenaran?”
Surat itu membuat Khalid termenung lama. Ia mulai merasa bahwa ada kebenaran dalam Islam yang selama ini ia abaikan.
Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk meninggalkan Makkah. Diam-diam, ia berangkat menuju Madinah bersama dua sahabatnya, Amr bin Ash dan Utsman bin Talhah. Ketika mereka tiba di Madinah, mereka langsung menuju Masjid Nabawi untuk bertemu dengan Rasulullah SAW.
Begitu melihat Khalid, Rasulullah tersenyum dan berkata, “Aku sudah tahu bahwa engkau akan datang, wahai Abu Sulaiman (nama panggilan Khalid). Allah telah memberikan petunjuk kepadamu.”
Khalid merasa hatinya bergetar mendengar kata-kata itu. Ia pun berkata dengan penuh penyesalan, “Wahai Rasulullah, aku telah banyak memerangi Islam dan menyebabkan kesedihan bagi kaum Muslim. Maukah engkau memaafkanku?”
Rasulullah meletakkan tangannya di bahu Khalid dan berkata dengan penuh kasih sayang, “Islam menghapus segala dosa yang lalu, wahai Khalid. Engkau sekarang adalah saudara kami.”
Dengan penuh ketulusan, Khalid mengucapkan syahadat, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya.”
Perang Mu’tah: Khalid Menjadi “Pedang Allah”
Setelah masuk Islam, Khalid tidak membuang waktu. Ia segera mengabdikan dirinya untuk perjuangan Islam.
Pada tahun 629 M, Rasulullah mengirim pasukan Muslim ke wilayah Mu’tah untuk menghadapi pasukan Romawi. Awalnya, tiga panglima utama Muslim gugur dalam pertempuran ini, yaitu Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Pasukan Muslim mulai kehilangan arah, sementara pasukan Romawi yang jumlahnya ratusan ribu semakin menekan mereka.
Di saat genting itu, seorang sahabat berteriak, “Khalid! Ambillah komando pasukan!”
Khalid segera maju dan mengambil alih kepemimpinan. Ia melihat keadaan yang sangat tidak menguntungkan, tetapi otaknya bekerja cepat.
Di tengah pertempuran, ia mengatur strategi baru. Ia memerintahkan pasukannya untuk berpindah posisi dan menyerang dengan formasi yang berbeda agar musuh mengira bahwa bala bantuan Muslim telah datang.
Taktik itu ternyata membuahkan hasil! Pasukan Romawi menjadi ragu dan kehilangan semangat. Di malam hari, Khalid memimpin pasukan Muslim untuk mundur dengan teratur.
Ketika Rasulullah SAW mendengar tentang strategi cerdas ini, beliau bersabda, “Khalid adalah pedang Allah yang terhunus.” Sejak saat itu, Khalid bin Walid dikenal dengan gelar Saifullah atau Pedang Allah.
Penaklukan Makkah: Kemenangan Tanpa Pertumpahan Darah
Setahun kemudian, pasukan Muslim bergerak menuju Makkah untuk membebaskan kota itu dari kekuasaan Quraisy. Khalid diberi tugas memimpin pasukan dari salah satu sisi kota. Ketika Makkah akhirnya jatuh ke tangan kaum Muslim, Rasulullah SAW menunjukkan keteladanan luar biasa dengan memberikan amnesti kepada penduduknya.
Namun, di beberapa sudut kota masih ada kelompok yang melawan. Khalid ditugaskan untuk mengatasi mereka. Dengan keahliannya, ia berhasil menumpas perlawanan kecil tanpa memakan banyak korban.
Setelah penaklukan ini, Khalid semakin giat berjuang demi Islam. Ia turut serta dalam Perang Hunain, di mana kaum Muslim menghadapi suku Hawazin dan Tsaqif. Sekali lagi, kecerdikan dan keberaniannya membawa kemenangan bagi Islam.
Kesetiaannya Hingga Akhir Hayat Rasulullah SAW
Hingga Rasulullah SAW wafat pada tahun 632 M, Khalid bin Walid tetap menjadi benteng pertahanan Islam. Ia tidak hanya berperang dengan pedang, tetapi juga dengan kecerdasannya. Setelah Rasulullah wafat, Khalid terus berjuang di bawah kepemimpinan Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab, memperluas wilayah Islam ke berbagai penjuru dunia.
Namun, bagi Khalid, tidak ada yang lebih berarti selain perjuangannya bersama Rasulullah. Ia sering mengenang bagaimana dahulu ia memusuhi Islam, lalu Allah memberinya hidayah dan menjadikannya salah satu pembela Islam yang paling setia.
Di penghujung hidupnya, meskipun telah memenangkan ratusan pertempuran, Khalid bin Walid meninggal bukan di medan perang, melainkan di atas tempat tidurnya. Dengan penuh penyesalan, ia berkata, “Tidak ada satu pun bagian dari tubuhku kecuali penuh dengan bekas luka perang. Namun, aku meninggal bukan di medan pertempuran.”
Penulis: Rangga Fajar Oktariansyah